Saturday, February 17, 2018

Gerakan Umat Mencari Fajar (GUMF)

Assalamu'alaikum,

Dalam tiga-empat minggu terakhir, saya banyak memenuhi undangan masyarakat yang menghendaki penjelasan yang lebih rinci tentang hasil penelitian kami tentang awal waktu subuh dan isya (lihat http://cis-saksono.blogspot.co.id/2018/01/evaluasi-awal-subuh-dan-isya-perspektif.html). Dalam kesempatan menjelaskan hasil penelitian kami, saya selalu menyampaikan keinginan untuk mengundang partisipasi umat Islam dalam pengumpulan data kehadiran fajar yang lebih banyak lagi.

Saat saya melakukan presentasi di Yogyakarta, ada ratusan pemuda yang sangat antusias untuk membantu pengumpulan data fajar ini. Saya sangat gembira sekali dengan sambutan yang sangat luar biasa ini. Untuk itulah, hari ini, ISRN meluncurkan sebuah program yang kami beri nama: Gerakan Umat Mencari Fajar. Intinya, kami mengundang partisipasi umat Islam untuk mengumpulkan data fajar melalui pemotretan menggunakan kamera digital. Data tersebut akan kami proses dan analisis dengan teknik image processing, dan hasilnya akan kami publikasikan sebagai hasil kerja besar umat Islam Indonesia dalam memverifikasi kehadiran fajar.

Batasan teknis dan administratif cara pemotretan fajar ini beserta contoh hasil pemotretan yang dilakukan oleh masyarakat di Jakarta diberikan dalam file PDF berikut. Yang tertarik untuk berpartisipasi, silahkan download file tersebut melalui: https://drive.google.com/open?id=1FaU6FplmF4Ees1vI_FsjhUcuyfK5FQqU

Jika ada yang kurang jelas, silahkan email kami di isrn.gumf@gmail.com.

Wassalam,

Sunday, January 28, 2018

Wawancara Voice of Al-Islam

Sekitar seminggu lalu, VOA (Voice of Al-Islam) mewawancara saya sehubungan dengan terbitnya buku saya berjudul: Evaluasi Awal Waktu Subuh dan Isya yang terbit sekitar dua minggu lalu.

Wawancara dilakukan di rumah saya. Intinya adalah penjelasan tentang isi buku, kronologis yang melatar-belakangi penelitian, proses, hasil, dan sebagainya. Bagi yang tertarik, silahkan ikuti wawancara tersebut melalui:

https://www.youtube.com/watch?v=qNvGxGn-ggM 

Dalam minggu-minggu mendatang, sudah terjadwal juga beberapa undangan dari universitas, organisasi masyarakat, dan masjid yang tertarik untuk memperoleh penjelasan yang lebih rinci lagi daripada apa yang sudah saya tulis dalam buku di atas.

Semoga bermanfaat.

Friday, January 12, 2018

Evaluasi Awal Subuh dan Isya: Perspektif Sains, Teknologi, dan Syariah

Alhamdulillah, meskipun terlambat enam hari, akhirnya buku saya tentang evaluasi awal waktu subuh dan isya terbit juga. The Islamic Science Research Network (ISRN) UHAMKA yang baru berdiri kurang dari dua tahun sangat berbahagia dapat menyelesaikan tahap pertama tugas penelitian yang sangat penting ini. Kami menggunakan dua sensor pendeteksi fajar generasi terakhir, mengkoleksi ratusan hari-pengamatan data, membangun beberapa algoritma pemrosesan data, melakukan pengujian statistik secara robust, dan menerima testimoni dari beberapa pihak independen dalam penelitian ini. Kesemuanya menyimpulkan bahwa sudah cukup banyak fakta saintifik yang membuktikan bahwa Muslim di Indonesia melakukan sholat subuhnya terlalu awal sekitar 26 menit, dan sholat isyanya terlalu lambat juga sekitar 26 menit. Akibat yang terakhir ini, orang mungkin masih mengira masih cukup waktu melakukan sholat maghrib, padahal waktunya telah habis karena telah masuk waktu isya.


Angka dip (sun depression angle atau sudut kedalaman Matahari dihitung dari ufuk) yang kami peroleh adalah -13.4 derajat untuk subuh dan -11.5 derajat untuk isya. Setiap satu derajat, pergerakan semu Matahari memerlukan waktu sekitar 4 menit. Sementara itu, untuk wilayah Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura), pada umumnya menggunakan dip -20 derajat untuk subuh dan -18 derajat untuk isya. Data yang kami gunakan memang baru untuk wilayah Depok dan Medan. Angka dip untuk seluruh wilayah nasional memang belum kami peroleh karena mungkin akan diperlukan sepuluh tahunan untuk menyelesaikannya. Namun demikian, diperkirakan angkanya tidak akan meleset jauh dari yang telah kami peroleh. Sementara itu, penggunaan angka dip yang sekarang ini sudah harus segera dikoreksi. 

Ada beberapa fakta saintifik lain. Ulama-ulama klasik pada abad pertengahan sebetulnya umumnya memperoleh harga dip -18 derajat untuk subuh dan -16 derajat untuk isya untuk wilayah Timur Tengah. Alat-alat yang mereka gunakan pada umumnya adalah astrolabe untuk pengukurannya, sedangkan untuk pemrosesannya menggunakan rubu mujayyab. Seharusnya, di wilayah equator secara nominal, angka dip-nya lebih rendah. Dalam kasus ini, temuan hasil penelitian kami konsisten dengan prinsip astronomi dasar di atas. Tapi anehnya, kita di Asia Tenggara saat ini justru menggunakan angka dip yang secara nominal lebih besar dari angka di lintang tinggi seperti Timur Tengah. Ini memang aneh. Tidak ada rujukan saintifik pada penetapan angka dip yang sekarang ini kita gunakan. Semoga buku ini memberikan sumbangan untuk pembangunan peradaban umat Islam.

Bagi yang tertarik, untuk pemesanan buku dapat diperoleh dari UHAMKA PRESS melalui nara hubung Sdr. Alfian di +62-838-7266-8742.



Thursday, November 2, 2017

Fakta Sains: Perlunya Evaluasi atas Awal Waktu Subuh

Beberapa mahasiswa yang sedang menyelesaikan program S2 dalam Ilmu Falak, minta dasar ilmiah atas usulan koreksi awal waktu subuh dan isya yang dilakukan oleh the Islamic Science Research Network (ISRN) UHAMKA dan Himpunan Ilmuwan Muhammadiyah (HIM). 

Berikut adalah makalah yang pernah kami presentasikan dalam sebuah Seminar Nasional berjudul Model Integrasi Sains-Islam: Evaluasi Awal Waktu Shalat Subuh Menurut Sains dan Fikih yang diselenggarakan oleh ISRN-UHAMKA di aula AR. Fakhruddin, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UHAMKA pada tanggal 9 Mei 2017. Perwakilan ummat Islam yang diundang dalam seminar ini adalah: MUI, Lajnah Falakiyah NU, Al-Irsyad, Dewan Hisab PERSIS, Rabithah Alawiyah, Majelis Tarjih dan Tajdid PP. Muhammadiyah, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dll.

Bagi yang tertarik, dapat mengakses file PDF makalah tersebut melalui:


Harus dicatat bahwa makalah tersebut ditulis pada sekitar bulan April ketika data SQM yang kami miliki baru sekitar 1-2 bulan. Secara saintifik, statistical measures hasil penelitian dalam makalah tersebut belum stabil. Kondisi stabil baru terjadi setelah kami memperoleh 4-5 bulan data pengataman kecerlangan langit dengan menggunakan alat SQM.

Untuk selanjutnya, hasil penelitian selengkapnya akan diterbitkan dalam sebuah buku yang, insya Allah, akan terbit pada awal 2018 yang akan datang.

Salam,
Tono Saksono

Monday, October 30, 2017

Jadwal sholat untuk beberapa kota tahun 2018 dengan sun depression angle baru

Assalamualaykum

Himpunan Ilmuwan Muhammadiyah (HIM) bekerjasama dengan the Islamic Science Research Network (ISRN)-UHAMKA, Jakarta melakukan penelitian awal waktu subuh yang diduga terlalu awal, dan awal waktu isya yang diduga terlalu lambat karena menggunakan pedoman sun depression angle (dip - Matahari di bawah ufuk) -20 derajat dan -18 derajat. Besaran dip ini digunakan atas rekomendasi dua orang astronom Inggris (Lehman dan Melthe) pada tahun 1908 di Mesir yang aslinya adalah -19 derajat (Agus Hasan Bashori - Waktu Shubuh secara Syar'i Astronomi dan Empiris, hal 8). Rekomendasi ini kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia, Malaysia, Singapur, dan Brunei Darussalam dan mengalami penyesuaian menjadi besaran dip -20 dan -18 derajat di atas.

Untuk meneliti besaran dip yang benar, HIM dan ISRN menggunakan data tingkat kegelapan langit yang direkam dengan alat sky quality meter (SQM) selama delapan (8) bulan. Ada 117 hari pengamatan untuk awal waktu subuh, dan 72 hari pengamatan untuk awal waktu isya (untuk pengembangan algoritmanya, silahkan lihat di Fakta Sains: Perlunya Evaluasi atas Awal Waktu Subuh). Hasilnya, ternyata memang secara meyakinkan: subuh di Indonesia seharusnya terjadi saat Matahari ada pada dip -13.4 derajat, sedangkan isya seharusnya telah masuk saat Matahari ada pada dip -11.5 derajat. Sebagai data pembanding, HIM/ISRN juga melakukan pemotretan panoramik dengan menggunakan all sky camera (fish eye lens). Hasil penelitian ini sedang ditulis menjadi sebuah buku yang akan menjelaskan dasar syariah, instrumentasi, data, algoritma pemrosesan data, analisis statistik, quality control, dan hasil. Insya Allah, buku tersebut akan terbit pada awal 2018 yang akan datang. 

Berikut ini diberikan contoh jadwal waktu sholat untuk beberapa wilayah di Indonesia dengan dip hasil penelitian HIM dan ISRN. Ditambahkan pula kota-kota besar di negara tetangga yang mungkin diperlukan oleh warga Indonesia yang bermukim di kota-kota tersebut:

Balikpapan
Bandar Lampung
Bandar Seri Begawan
Bandung
Batam
Batusangkar
Bekasi
Bengkulu
Berau, Kaltim
Bogor
Bontang
Cirebon
Denpasar
Depok
Jakarta
Kuala Lumpur
Kutai Kartanegara
Makassar
Malang
Mataram, NTB
Medan
Padang
Padangsidempuan
Palembang
Pekalongan
Pontianak
Purwokerto
Samarinda
Semarang
Singapura
Sukoharjo
Sumenep
Surabaya
Surakarta
Tangerang
Tegal
Wonosari
Yogyakarta



Jadwal waktu sholat untuk kota lain di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura) dapat disediakan tanpa dipungut biaya sebagai pelayanan HIM/ISRN pada masyarakat. Selain itu, secara berangsur-angsur, HIM/ISRN juga akan meng-upload jadwal waktu sholat kota-kota besar lain di Indonesia secara bertahap.

Penjelasan teknis atas data, metode, algoritme, analisis, dan hasil penelitian ini dapat diberikan jika diperlukan.


Wassalam,

Tono Saksono
Ketua Umum, Himpunan Ilmuwan Muhammadiyah (HIM)
Ketua, the Islamic Science Research Network (ISRN)-UHAMKA

Monday, September 11, 2017

Tanggapan balik untuk Pak Thomas Djamaluddin

Melalui tiga orang kolega, di hari yang sama, saya menerima tanggapan atas tulisan saya di Suara Publika pada 31/8/2017, dari Pak Thomas Djamaluddin (versi WA). Pada ketiga kolega ini, langsung saya sampaikan bahwa saya segera tulis jawabannya, tapi akan saya kirim ke Republika setelah tulisan Pak Thomas tersebut diterbitkan oleh Republika. Sampai hari ini, 11/9/2017, saya belum lihat tulisan Pak Thomas dimuat (mungkin saya terlewat?), maka saya publikasikan saja balasan saya berikut.


Silahkan baca tanggapan saya selengkapnya melalui link berikut:


Semoga bermanfaat, salam.