Thursday, November 29, 2007

November 2007

Tanggal: 10 Nopember
Ustadz: Drs. Rikza Abdullah
Topik: Tafsir At-Takatsur (lanjutan)

Surat At-Takatsur diturunkan pada masa setiap suku kaum pagan Arab pada saat itu saling berlomba-lomba memperkuat klan masing-masing. Satu kelompok menyerang dan berusaha menaklukkan kelompok lainnya untuk menunjukkan kekuatan dan menambah kekayan mereka dengan cara mereka-reka alasan apapun yang dapat dibuat. Dalam kondisi sosial seperti ini, seorang anak perempuan dianggap dianggap tidak akan mampu melestarikan kekuatan kelompoknya, atau bahkan dianggap sebagai beban. Itulah sebabnya, anak perempuan dibunuh ketika masih bayi agar tidak menjadi beban kelak, sedangkan kehadiran seorang bayi laki-laki menjadi sebuah kebanggan.

Dengan surat At-Takatsur ini, Allah mengajarkan kita bahwa:

Kita dilarang untuk terlalu memusatkan diri dalam kehidupan duniawi (menumpuk kekayaan, kekuasaan dan sebagainya) yang akan menyebabkan kita menjadi sombong;

Namun sebaliknya, kelemahan-kelemahan yang kita miliki juga harus diperkuat meskipun tidak perlu berlebihan. Membangun kekuatan memang penting, namun tidak boleh sampai menimbulkan kesombongan yang berlebihan.

Kesimpulannya: harus ada keseimbangan dan harmoni antara kekuatan spiritual dan kekuatan fisik.

Kata maqaabir pada surat At-Takatsur berasal dari kata maqbara yang selanjutnya berasal dari kata qabara. Kata ma di atas menunjukkan tempat seperti halnya kata masjid sebagai tempat bersujud (sajada). Kata qaa (bacaan panjang dengan alif) menunjukkan kata benda jamak. Kata zara berarti mengunjungi yang kemudian berkembang menjadi ziarah. Itulah sebabnya ayat حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ lebih tepat diterjemahkan menjadi sampai kamu mengunjungi kuburan. Kurang tepat bila diterjemahkan: sampai kamu masuk kubur.

Ayat ke tiga surat At-Takatsur berbunyi:

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),

Kata sa berarti segera sehingga سَوْفَ berarti akan dalam waktu dekat (near future).

Kata تَعْلَمُونَ berasal dari ‘ilma, ya’lam dan ‘ilman sehingga terjemahan ayat 3 At-Takatsur adalah seperti di atas.

Orang yang mampu melihat masa depan yang jauh adalah orang-orang yang mengerti (ulul albab), yang memiliki dua kamampuan yaitu: yadzkarun (mengingat Allah) dan yatafakkarun (merenung dalam mengingat Allah). Ini diperlukan dalam membangun vision untuk melihat tujuan hidup yang sebenarnya dan kekal di akhirat kelak. Ini digambarkan oleh sebagai perniagaan (yang selalu untung) dengan Allah dalam firman Allah surat Faatir: 29.

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (QS 35, Faatir: 29)

Tanggal: 17 Nopember
Ustadz: Muhammad Mourits
Topik: Rukun dan syarat

Perhatikanlah tiga buah firman Allah yang memiliki persamaan satu sama lain, yaitu:

At-Taubah: 33;

Al-Fath: 28;

As-Shaff: 9

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (QS 9, At-Taubah: 33)

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (QS 48, Al-Fath: 28)


هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci. (QS 61, As-Saff: 9)

Ketiga ayat di atas jelas menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang haq dan kita harus bangga sebagai Muslim. Kemudian kita akan lihat juga bahwa selain agam Islam maka akan tertolak di hadapan Allah seperti firman Allah dalam Ali-Imran: 85.

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS 3, Ili-Imran: 85)

Dengan maraknya orang-orang yang mengaku telah menerima wahyu (sebagai nabi) setelah Rasulullah, Allah menjelaskan bahwa mereka adalah pembohong dan bagi mereka adalah siksaan yang pedih, seperti firman Allah dalam Al-An’am: 93.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللّهِ كَذِباً أَوْ قَالَ أُوْحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَا أَنَزلَ اللّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلآئِكَةُ بَاسِطُواْ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُواْ أَنفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah." Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya. (QS 6, Al-An’am: 93)

Tanggal: 18 Nopember
Ustadz: Drs. Bachtiar Kartasasmita
Topik: Tiga pokok (al ushulu tsalatsa)

Tiga pokok dalah tauhid (ajaran keimanan) adalah:

  1. Ma’rifatullah atau mengenal Allah;
  2. Ma’rifatul aslam atau mangenal Islam;
  3. Ma’rifatur rasul atau mengenal Rasul.

Dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an, Allah merepresentasikan dirinya sebagai Tuhan (Rab) seperti dalam Al-Fatiha: 2.

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala puji2 bagi Allah, Tuhan semesta alam (QS 1, Al-Fatiha: 2)

Kata رَبِّ (Tuhan) di atas sama seperti ayat Al-Qur’an yang berarti: hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu (ya ayyuhan nasu’ budu robbakumuladzi kholaqokum).

Selanjutnya kita bisa perhatikan pula ayat-ayat berikut:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. (QS 47, Muhammad: 19)

قُل لِّمَن مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ قُل لِلّهِ كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لاَ رَيْبَ فِيهِ الَّذِينَ خَسِرُواْ أَنفُسَهُمْ فَهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi." Katakanlah: "Kepunyaan Allah." Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang 462. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman463. (QS 6, Al-An’am: 12)

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ قُلِ اللّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاء لاَ يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُواْ لِلّهِ شُرَكَاء خَلَقُواْ كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah". Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa". (QS 13, Ar-Rad: 16)

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS 20, Taha: 14)

Kalimat sembahlah aku (فَاعْبُدْنِي) pada surat Taha: 14 inilah yang lebih menjelaskan bagaimana cara menyembah Allah dengan penjelasan berikutnya dalam ayat tersebut yaitu: َأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي yang berarti mendirikan sholat dan berdzikir (mengingat Allah). Selanjutnya, dzikir terdiri atas tiga macam yaitu:

  1. Sholat seperti pada Taha: 14 di atas);
  2. Membaca kalimat-kalimat yang mengingatkan dan membesarkan nama Allah;
  3. Membaca Al-Qur’an

Dengan mengenal Allah dan bertaqwa, kita akan memperoleh kemerdekaan yang sejati seperti yang dijelaskan dalam Al-An’am: 82 dan Ar-Rad: 28.

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 6, Al-An’am: 82)

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
(QS 13, Ar-Rad: 28)


Tanggal: 24 Nopember
Ustadz: Drs. Rikza Abdullah
Topik:
Tafsir At-Takatsur (lanjutan)

Pesan-pesan surat At-Takatsur sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari manusia, yaitu kehidupan dunia hendaknya jangan dijadikan titik fokus dari tujuan hidup. Kita harus selalu menitik beratkan persiapan untuk kehidupan kekal di akhirat karena kehidupan dunia akan sangat tidak berarti (hanya sebentar).

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ
Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,

Kata lau (لَوْ) adalah sama dengan in yang berarti: bila atau kalau). Sementara itu, pengulangan kata kerja تَعْلَمُونَ yang diikuti dengan kata benda عِلْمَ yang memiliki akar kata sama bermakna sebagai tekanan atau penguatan di dalam bahasa Arab.

Secara literal, ayat ke 5 At-Takatsur di atas adalah sebetulnya sebuah pertanyaan yang jawabannya justru telah diberikan dalam ayat pertama di atas.

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ
niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,

Huruf nun (نَّ) di atas dinamakan nun taukid yang bermakna penekanan dari kata sebelumnya tara (تَر) yang berarti melihat. Sedang huruf lam bermakna sungguh yang juga bermakna penekanan. Ini adalah jaminan Allah bahwa neraka jahim (جَحِيمَ) itu ada dan akan diperlihatkan pada manusia.

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ
1600dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin.

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

Janji Allah memang menyangkut hal yang ghaib sehingga hanya karena ketaqwaan sajalah yang dapat meyakini keberadaan janji Allah tersebut. Sementara itu, taqwa hanya akan dapat diperoleh dengan pengetahuan seperti surat Fathir: 28 dan Ar-Rum: 59 berikut

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
1259Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS 35, Faathir: 28)

كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami. (QS 30, Ar-Rum: 59)



No comments: