Google+ Followers

Tuesday, November 22, 2011

WASPADA! Potensi perbedaan 1 Ramadan pada 3 tahun berturut-turut (2012 – 2014)



Potensi umat Islam untuk kembali dirundung kesedihan akibat perbedaan penentuan awal Ramadan akan berulang selama tiga tahun berturut-turut yaitu pada 2012, 2013, dan 2014. Data astronomi untuk 1 Ramadan tahun 1433-H, 1434-H, dan 1435-H tersebut disusun pada Tabel 1 (semua hitungan dilakukan dengan basis Jakarta).


Pada 19 Juli 2012, ijtima akan terjadi pada sekitar jam 11:10 pagi. Saat matahri tenggelam pada jam 17:54, hilal akan berada pada ketinggian 1.9 derajat di atas ufuk. Departemen Agama RI biasanya akan menganulir syahnya saat ini sebagai awal bulan Ramadan karena presumption hilal yang dapat dilihat itu adalah minimum 2 derajat.


Pada 8 Juli 2013, ijtima insya Allah akan terjadi pada jam 16:00 dan saat matahri tenggelam pada jam 17:52, hilal hanya memiliki ketinggian 0.7 derajat. Apalagi ini. Ini pastilah akan tertolak juga oleh otoraitas di Jakarta.


Sedangkan pada 27 Juni 2014, ijtima akan terjadi lebih lambat lagi yaitu pada sekitar jam 17:02. Saat matahari tenggelam pada jam 17:49, hilal akan sangat tipis dan berada pada ketinggian sekitar 0.7 derajat. Jelas inipun rasanya akan ditolak oleh otoritas di Jakarta sebagai awal Ramadan.

ISLAMIC
CALENDAR
GREGORIAN CALENDAR
(dd-mm-yy)
CONJUNCTION
(hh:mm)
SUNSET (hh:mm)
MOONSET (hh:mm)
HILAL ALTITUDE (o)
1 Ramadan 1433-H
19 July 2012
11:10
17:54
18:02
1.9
1 Ramadan 1434-H
08 July 2013
16:00
17:52
17:54
0.7
1 Ramadan 1435-H
27 June 2014
17:02
17:49
17:52
0.7
Tabel 1: Karakteristik matahari dan bulan pada awala Ramadan 1433-H, 1434-H, dan 1435-H
Persoalannya, syarat imkan-rukyat 2 derajat ini jelas mengada-ada karena pada zaman Rasul, ada dua kali dimana ketinggian hilal itu hanya 1.7 dan 1.8 derajat (lihat Tabel 14 di buku Mengkompromikan Rukyat dan Hisab di hal 203 yang saya tulis pada tahun 2007). Selanjutnya, telah secara spesifik disebut oleh Rasul, bahwa melihat hilal itu diperuntukkan bagi kaum ummiy yang tidak memiliki akses pada informasi saintifik dan teknologi. 

Sebetulnya kesulitan melihat hilal itu bukan karena ketinggiannya. Problem yang terbesar adalah karena waktunya yang sangat pendek. Dalam kasus 19 Juli 2012 nanti waktunya hanya 8 menit. Sedangkan pada 8 Juli 2013 dan 27 Juni 2014 berturut-turut akan hanya sekitar 2 dan 4 menit. Jadi ibaratnya perukyat ini mau garuk2 pun enggak bakal sempat. Kondisi psikologis itulah sebetulnya problem terbesarnya. Belum lagi adanya halangan awan, kabut, dan tekanan psikologis pesan sponsor “pokoknya harus enggak kelihatan”.

Selain itu, kelemahan terbesar dari praktek pengamatan hilal yang dilakukan oleh kebanyakan perukyat dan otoritas yang mengorganisasinya (termasuk expert dan konsultanya) adalah tidak adanya sebuah mekanisme untuk memverifikasi apakah betul hilal tersebut kelihatan atau tidak kelihatan. Dalam sebuah masyarakat modern, code of conduct seorang professional itu adalah: apapun keputusan yang diambil harus dapat diverifikasi oleh siapapun, setiap saat. Apalagi jika keputusan itu menyangkut syah dan tidaknya sebuah ibadah bagi ratusan juta umat Islam. Praktek rukyat yang ada tidak memberikan ruang sama sekali bagi masyarakat untuk memverifikasi.

Dalam statistik, jika anda harus mengukur sebuah obyek tapi dilakukan hanya satu kali saja, maka anda akan masuk dalam sebuah perangkap yang dinamakn zero variance. Artinya, sebesar apapun kesalahan dari pengukuran anda, anda tidak mungkin akan mengetahuinya. Kesalahan ini tidak akan dapat diditeksi. Secara sederhana, saya berikan ilustrasi seperti berikut. Anda akan membeli tanah di kampung yang belum mengenal sertifikat tanah. Si pemilik mengklaim panjang tanahnya adalah 30 meter. Ketika anda ukur, ternyata panjangnya cuma 27 meter. Anda tidak mungkin akan dapat mengatakan bahwa ukuran yang yang anda lakukan adalah yang benar. Mengapa? Karena obyek yang diukur cuma satu, dan andapun hanya melakukannya satu kali. Tidak ada redundancy di sana. Bagaimana untuk memverifikasinya, anda harus mengukurnya kembali. Akan lebih baik jika yang mengukur kali kedua adalah orang lain yang independen menggunakan pita ukur yang berbeda dari yang anda gunakan. 

Tapi keadaanpun akan tidak terlalu banyak menolong jika orang independen ini memperoleh angka 28 meter. Apa sebabnya? Karena jika redundant observationnya cuma satu, maka tetap reliability hasil pengukuran tersebut masih rendah. Maka pengukuran ketiga dan lebih baik lagi oleh orang lain lagi akan menolong. Jadi rangkaian pengukuran itu diperlukan sebagai upaya cek untuk memverifikasi pengukuran anda. Kondisi untuk membangun hasil pengukuran hilal yang reliable inilah yang tidak dibangun oleh otoritas di Jakarta. Ngukur hilal (secara kualitatif, kelihatan atau enggak kelihatan), tapi dilakukan tanpa mekanisme cek dan verifikasi. Memang dilakukan oleh ratusan orang di 90 lokasi yang berbeda. Tapi kondisi psikologisnya semua sama, dibawah tekanan yang “garuk2 pun enggak sempat” karena cuma punya waktu beberapa menit saja. Ditambah lagi dengan tekanan politik “pokoknya jangan sampe kelihatan”.

Cilakanya, ratusan juta umat Islam harus percaya pada kuputusan ini tanpa upaya diberdayakan agar mereka mampu memverifikasi keputusan ulil amrinya. Ini bukan saja pseudo science, tapi harus ditambah lagi dengan despotism in science. Persis seperti Moammar Khadafy yang menetapkan bahwa interpretasi Revolusi Rakyat Libya itu ya harus yang persis seperti yang dia maui. Sangat berbahaya pseudo science and despotism in science ini.

Islamic
Calendar
Cities in
American
Continent
Local
Date
Sunset (LT)
Moonset (LT)
(hh:mm)
Hilal
Altitude
(o)
Synchronization
with Jakarta
Date
Time
1 Ramadan
1433-H
Porto Alegre,
Brazil
19/07/2012
17:45
18:27
8.3
20/07/2012
03:45

Santa Cruz,
Bolivia
19/07/2012
17:55
18:32
8.3
20/07/2012
04:55
1 Ramadan
1434-H
Papeete,
Tahiti
08/07/2013
17:38
18:20
9.2
09/07/2013
10:38

Adamstown,
Pitcairn Island
08/07/2013
18:06
18:49
8.9
09/07/2013
09:06
1 Ramadan
1435-H
Papeete,
Tahiti
27/06/2014
17:35
18:17
9.2
28/06/2014
10:35

Adamstown,
Pitcairn Island
27/06/2014
18:02
18:44
8.8
28/06/2014
09:02
Tabel 2: Alternatif kota2 dengan hilal yang cukup tinggi untuk pengamatan hilal pada tahun 2012-2014

Bagaimana cara memverifikasi hasil pengamatan rukyat? Yang jelas, jika di Jakarta saja sudah begitu rendah, adalah groundless untuk melakukan pengamatan di wilayah2 lebih ke timur. Persoalannya, ke barat memang ahirnya jadi merambah pada wilayah teritori politik negara lain. Namun, ibadah kan memang harus bebas dari domain politik, maka upaya melakukan rukyat di wilayah lain adalah syah secara syar’i. Salah satunya diusulkan dilakukan di kota2 seperti pada Tabel 2.  Pada saat magrib tanggal 19 Juli 2012 di Porto Alegre, Brazil, hilal akan ada pada ketinggian sekitar 8.3 derajat. Hilal itu adalah hilal yang sama yang seharusnya kelihatan pada 10 jam sebelumnya ketika maghrib di Jakarta. Kalau enggak kelihatan, itu karena beban psikologis, bukan teknis. Pada saat maghrib di Porto Alegre, tentu saja di Jakarta sudah jam 03:45 tanggal 20 Juli 2012. Tapi, cukup waktu bagi otoritas di Jakarta untuk memberi tahu umat Islam untuk tidak berpuasa karena telah dikonfirmasi bahwa hilal telah lahir dan besar.

Pada Ramadan tahun berikutnya, memang verifikasi harus dilakukan di tempat lain seperti Papeete (Tahiti) dan Adamstown (Pitcairn Island). Saat itu di Jakarta sudah sekitar jam 9 atau 10 pagi (masuk 1 Syawal), tapi masih cukup bagi otoritas di Jakarta untuk meminta umat Islam membatalkan puasanya. Untuk sholat Iedul Fitri dapat dilakukan pada 2 Syawal paginya karena hari itu telah terlambat. Tapi yang paling penting, umat telah diminta membatalkan puasa di hari yang diharamkan.

Nah, dalam hal inilah metode hisab memiliki keunggulan karena compliant dengan kaidah2 professional conduct manusia modern. Ia dapat diverifikasi oleh siapapun dan kapanpun. Kalau ada yang tidak bisa memverifikasi, sebetulnya yang tepat belum mampu. Kalau mau sedikit belajar, akan sangatt mudah bagi setiap orang untuk melakukan verifikasi. Yang paling penting, kita enggak bakal punya Kelender Islam bila tetap harus merukyat. Hisablah satu2 nya cara untuk membangun Kalender Islam yg kredibel. Wallahu ‘alam bis showab.

Wassalam,
Tono Saksono

16 comments:

Ashari said...

Menarik sekali, Prof. Sangat bermanfaat. Terima kasih jazaakallaahu khoiron.

Ashari

Badrus Zaman said...

Maaf, saya tidak setuju dengan pendapat anda: "Sebetulnya kesulitan melihat hilal itu bukan karena ketinggiannya". Saya bukan ahli astronomi, tapi saya tahu bahwa cahaya bulan hanyalah pantulan dari sinar matahari. Bila ketinggian bulan sangat rendah, apalagi bila garis edarnya berimpit dengan garis edar matahari, maka tentu posisinya sangat dekat dengan matahari. Bagaimana mungkin kita bisa melihat cahaya bulan pada kondisi ini dimana matahari ada di balik bulan?

Badrus Zaman said...

Satu lagi, mengapa kita harus ikut rukyatul hilal di negara lain? Bagaimana pendapat anda dengan hadits Kuraib berikut ini:

Dari Kuraib: Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Haarits telah mengutusnya menemui Muawiyah di Syam. Berkata Kuraib: Lalu aku datang ke Syam, terus aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku Ramadhan, sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan, lalu Abdullah bin Abbas bertanya ke padaku, kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya: “Kapan kamu melihat hilal?”
Jawabku: “Kami melihatnya pada malam Jum’at”.
Ia bertanya lagi: “Engkau melihatnya?”
Jawabku: “Ya ! Dan orang banyak juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Muawiyah puasa”.
Ia berkata: “Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka senantiasa kami berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihat hilal ”.
Aku bertanya: “Apakah tidak cukup bagimu ru’yah dan puasanya Muawiyah?”
Jawabnya: “Tidak. Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada kami.”

Hadits ini dikeluarkan oleh imam-imam: Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Daruquthni, Baihaqy dan Ahmad, semuanya dari jalan Ismail bin Ja’far dan Muhammad bin Abi Harmalah dari Kuraib dari Ibnu Abbas.

Tono Saksono said...

Jika anda baca tulisan saya sebelumnya, dan mencoba program animasi hilal yg saya kirim, sinar matahari memang menjadi faktor utama juga yg menyebabkan hilal (bahkan Bulan) enggak bakal kelihatan. Pada hari ke 7, Bulan (setengah linkaran) akan terbit sekitar tengah hari dan tenggelam tengah malam. Tapi anda enggak bakal dapat melihat Bulan antara tengah hari sampe maghrib. Apakah anda mau mengatakan bahwa enggak ada Bulan di langit sana antara tengah hari dan maghrib karena Bulan enggak kelihatan? Jadi memang melihat hilal yg ditunjukkan oleh hadis2 yg anda sebutkan itu ya memang unt kaum yg ummiy. Coba kalau enggak ada hadis ttg istimal, mungkin anda akan berpuasa 35 hari krn mendung terus selama 5 hari setelah hilal terbentuk.

Jadi kalau anda mau menggolongkan diri sebagai kaum ummiy meskipun berpendidikan tinggi, ya enggak apa2. Sayangnya anda enggak konsisten. Mengapa saat mulai puasa pada subuh enggak dg membedakan benag putih dan hitam seperti petunjuk Qur'an? Andapun enggak menggunakan bayangan tongkat ketika mau sholat?

Soal negara, apa sih teritori politik itu? Kalau suatu saat Indonesia dapat menjajah Tahiti, apakah kemudian aturan melihat hilal jadi berubah? Kalau beberapa tahun berikutnya terjadi referensum dan lepas lagi seperti Timor Leste, aturan merukyat jadi berubah lagi? Enggak masuk akal, aturan agama kok ikut teritori politik.

Akibat harus merukyatlah maka Islam enggak pernah punya kalender Islam, karena umur kalender Islam maksimum cuma satu bulan. Akibatnya, uslim menggunakan kalender Masehi untuk perbankan Islam sekalipun. Padahal At-Taubah 36-37 mengharuskan menggunakan kalender Islam. Saya meneliti, akibat menggunakan kalender Masehi ini telah menyebabkan kekurangan bayar zakat puluhan triliun dolar. Silahkan baca http://cis-saksono.blogspot.com/2011/09/sisi-lain-dari-kemelut-penentuan-iedul.html.

Badrus Zaman said...

Berarti anda harus meralat pernyataan anda: "Sebetulnya kesulitan melihat hilal itu bukan karena ketinggiannya". Saya tidak mempermasalahkan bulan "ada apa tidak", tapi "kelihatan apa tidak".

Anda belum menjawab pertanyaan saya tentang hadits Kuraib.

Tono Saksono said...

Tidak harus meralat, pernyataan itu telah saya sampaikan dalam tulisan2 sebelumnya, soal kesulitan melihat hilal bahkan Bulan. Semuanya merupakan rangkain penelitian yg sedang saya lakukan.

Soal hadis sudah saya jawab...itu unt kaum yang ummiy, tak pandai menghitung. Kesaksian bagi yg belum pandai menghitung pada zaman Rasul, ya melihat dg mata karena enggak ada alternatif lain. Jika ada yg sudah pandai menghitung di zaman sekarang tapi tetap menempatkan dirinya sebagai kaum ummiy, menurut saya insya Allah saumnya tetap diterima. Tapi ada pertanyaan lain insya Allah di akhirat nanti: 1) "mengapa mereka menggolongkan dirinya sebagai kaum ummiy padahal telah pandai menghitung?" 2) Mengapa mereka melakukannya sehingga konstruksi Kalender Islam jadi tidak pernah terlaksana?" Nah pertanyaan itu yg harus dapat dijawab oleh masing2.

Wassalam,
TS

Badrus Zaman said...

Saya sudah baca tulisan anda tentang kesulitan melihat hilal, di antaranya di: Sun’s and Crescent’s characteristics toward Ramadan 1431-H. Disitu anda menulis: "Dengan ketinggian hilal yang sangat rendah dan bagian Bulan yang tersinari Matahari hanya kurang dari 1% saja (lihat tabel), pada umumnya upaya melihat hilal akan gagal."

Jadi sudah jelas, bahwa bila tinggi hilal sangat rendah akan sulit, bahkan tidak bisa, bagi kita untuk melihat hilal. Karena itu, anda tidak perlu memberi embel-embel tekanan psikologis pesan sponsor “pokoknya harus enggak kelihatan” dan Ditambah lagi dengan tekanan politik “pokoknya jangan sampe kelihatan”.

Tentang hadits Kuraib, bagi saya itu sebagai tanda bahwa waktu-waktu ibadah itu sifatnya lokal bukan global. Waktu puasanya orang Syam tidak sama dengan waktu puasanya orang Madinah. Sebagaimana waktu shalat juga bersifat lokal. Jadi tidak ada hubungannya dengan kaum ummiy. Dan anda tidak boleh menganggap orang Indonesia yang tidak mengikuti puasanya orang Brazil adalah kaum ummiy.

Anonymous said...

Saya awam astronomi..
Hanya saya paham bahwa semuanya dalam rangka mencari ridloNya...

Ketika kita meng-Hisab :bukankah kita menghitng dengan akal dan logika pengetahuan kita..

Sementara ketika kita me"rukyat" bukankah kita memang harus melihat (dengan ilmu atau bantuan teknologi yang ada) guna memverifikasi hitungan tersebut..

sekiranya ada empirik bahwa hilal baru bisa dilihat/dirukyat pada 2derjat atau 1,8 atau 1,9 derajat maka memang harus dilihat baik dengan teknologi yang ada (teropong tercanggih) dengan panduan arahdari hasil hitungan hasil Hisab...
Karena makna rukyat menurut saya adalah membuktikan hasil hisab itu sendiri...

Bagimana jika memang dengan teknologi tecanggih kita belum bisa melihat semntara nilai derajat sudah diatas pengalamana empirik 2 derajat..?

Kembali kepada mencari keridhloan Allah... bukankah penghalang yang ada :"mendung, hujan dan fenomena lainnya adalah hak Tuhan.....

Haruskah kita memaksakan dengan ilmu pengetahuan dan logika kita yang semua itu adalah asumsi matematik yang berbeda dengan konsep beribadah dalam agama yaitu keiklhasandan mengharap ridhloNya...

Semoga..wacana pencerahan melalui ilmu pengetahuan tidak sedikitpun ada niat untuk menggiring pada satu "data verifikasi" bahwa yang ini yang sah dan yang itu yang salah...

terimkasih

Tono Saksono said...

Begini aja Mas. Supaya enggak berdebat sesuatu yg enggak jelas. Sekarang berikan data pada saya pada Syawal tahun berapa hadis tsb bereferensi. Silahkan bongkar literatur anda dan saya beri waktu SATU BULAN. Tapi tolong berikan referensinya yg jelas, termasuk Buku Kuning. Nah jika anda bisa menjawab pertanyaan ini dg referensi yg kuat, insya Allah akan saya hitungkan dalam 30 menit saja, kira2 kenapa kok terjadi perbedaan di dua tempat itu. Itupun karena kalau sudah masuk waktu sholat, lebih baik saya sholat dulu. Tolong berikan juga Syam itu kira2 dimana sekarang. Sebagai referensi, saya berikan dua data pada tahun 624H (13/9/1227) dan 631H (28/6/1234) untuk kota2 Madinah, Baghdad, Damascus (Syria), dan Sanaa (Yaman). 1 Syawal di dua tahun tsb ketinggian hilal adl sbb: Madinah (4.9 dan 1.7 derajat); Baghdad (2.7 dan 8.6 derajat), Damascus (2.8 dan 0.7 derajat), dan Sanaa (6.9 dan 2.6 derajat). Nah hadis yg ada refer tentunya akan berada di antara tahun2 tsb.

Yang kedua. Jadi pengertian anda kalau Indonesia dengan Brazil sama2 hilalnya sudah positif itu berarti menerapkan kriteria global? Wah anda salah besar kalo begitu. Sekarang saya beri waktu SEMINGGU unt menghitung ketinggian hilal pada 1 Ramadan 1433H dan 1434H di Montreal, Canada. Cukup seminggu aja karena software astronomi kan banyak, silahkan gunakan. Setelah ada hasilnya, nanti saya berikan penjelasan mengapa hitungan saya bukan global.Cukup fair?

Saya enggak mengatakan anda ummiy, jelas anda orang berpendidikan tinggi. Tapi saya katakan anda menempatkan diri anda memakai kriteria yg seharusnya digunakan orang ummiy, atau minimal kriteria orang yg tersesat di lokasi yg tak ada akses pada informasi (di hutan, terdampar di pulau, dsb). Jelas?

Novi said...

saya mau mengkritisi beberapa pernyataan di tulisan tersebut:

1. "Persoalannya, syarat imkan-rukyat 2 derajat ini jelas mengada-ada karena pada zaman Rasul, ada dua kali dimana ketinggian hilal itu hanya 1.7 dan 1.8 derajat (lihat Tabel 14 di buku Mengkompromikan Rukyat dan Hisab di hal 203 yang saya tulis pada tahun 2007). "
saya mau mempertanyakan hal ini seperti pa Albi juga, mungkin pak tono punya data konversi awal Ramadhan atau Syawal zaman Rasulullah sehingga bisa menyimpulkan seperti diatas. Setahu saya kita hanya bisa menghitung parameter posisi hilal saat awal Hijriah tapi kita tidak tahu kapan awal bulan (apakah terjadi penggenapan atau tidak).

2. "Selanjutnya, telah secara spesifik disebut oleh Rasul, bahwa melihat hilal itu diperuntukkan bagi kaum ummiy yang tidak memiliki akses pada informasi saintifik dan teknologi."
apakah bener seperti ini tafsirnya?

3. "Sebetulnya kesulitan melihat hilal itu bukan karena ketinggiannya. Problem yang terbesar adalah karena waktunya yang sangat pendek."
ini sepertinya tidak tepat. kesulitan melihat hilal karena kita melihat objek yang sangat tipis dan sangat redup pada langit latar belakang yang terang. sejatinya terlihat hilal itu terjadi ketika kecerlangan sabit hilal lebih besar dari kecerlangan langit latar belakang.

4. "Dalam kasus 19 Juli 2012 nanti waktunya hanya 8 menit. Sedangkan pada 8 Juli 2013 dan 27 Juni 2014 berturut-turut akan hanya sekitar 2 dan 4 menit. Jadi ibaratnya perukyat ini mau garuk2 pun enggak bakal sempat."
Kita mempersiapkan pengamatan hilal dari hari sebelumnya. persiapan alat saat pengamatan hilal bisanya minimal dari sebelum asar agar kita bisa mengikuti pergerakan Matahari sebagai acuan dari teleskop. jadi kita garuk-garuknya udah dari siang. kalo kita dateng ke tempat pengamatan beberapa menit sebelum Matahari tebenam berarti pengmatan hilal tidak dipersiapkan secara matang.

5. "kelemahan terbesar dari praktek pengamatan hilal yang dilakukan oleh kebanyakan perukyat dan otoritas yang mengorganisasinya (termasuk expert dan konsultanya) adalah tidak adanya sebuah mekanisme untuk memverifikasi apakah betul hilal tersebut kelihatan atau tidak kelihatan."
saat ini kita sudah dimajakan dengan hasil teknologi, kamera digital merupakan alat yang bukan menjadi barang mewah lagi. apalagi saat ini kamera digital sudah dibenamkan dalam handphone. jadi verifikasi bisa gampang pak, tinggal foto aja citra hilal langsung dari teleskop ato langsung dengan kamera diambil langsung ke hilalnya (hilal yang sangat tipis sulit terdeteksi langusng dengan kamera dijital, harus melalui teleskop). kemudian, kriteria visibiltas hilal itu sendiri merupakan sebagai verifikasi awal dari hilal itu sendiri.

6. "Pada saat magrib tanggal 19 Juli 2012 di Porto Alegre, Brazil, hilal akan ada pada ketinggian sekitar 8.3 derajat. Hilal itu adalah hilal yang sama yang seharusnya kelihatan pada 10 jam sebelumnya ketika maghrib di Jakarta."
ini pernyataan yang paling salah, bagaimana mungkin hilal yang beda 10 jam bisa SAMA?
ambil analogi sederhana, periode sinodis rata-rata 29.53 hari, saat itu elongasi Bulan berubah dari 0-360.

dalam satu hari, elongasi berubah sekitar 12.19 derajat.
dalam 10jam elongasi berubah sekitar 5derajat. belum kita lihat paramete lainnya.
jadi sama dimananya?

maap agak terlalu panjang...

Novi Sopwan
Pascasarjana Astronomi
Institut Teknologi Bandung

Tono Saksono said...

Maaf, saya keliru tahun dalam komen saya yg lalu (tertukar dg tahun Masehi). Seharusnya 1 Syawal 2H (25/3/624) dan 1 Syawal 10H (29/12/631). Untuk ke dua tahun ini adalah: Madinah (8.8 dan 10.7 derajat), Baghdad (7.8 dan 8.7 derajat), Damascus (8.0 dan 9.0 derajat), dan Sanaa (9.4 dan 10.8 derajat). Jadi silahkan Bung Badrus Zaman memberikan tahun mana yg persisnya saat hadis yg dia refer itu diturunkan.

Badrus Zaman said...

Pak Tono, saya menilai anda sombong. Anda tidak mau meralat pernyataan anda: "Sebetulnya kesulitan melihat hilal itu bukan karena ketinggiannya". Sudah jelas itu pernyataan salah anda masih memberi embel-embel tekanan psikologis pesan sponsor “pokoknya harus enggak kelihatan” dan Ditambah lagi dengan tekanan politik “pokoknya jangan sampe kelihatan”.. Itu saya nilai sebagai penghinaan kepada pemerintah, tapi anda tidak mencabutnya. Terus anda membuat pernyataan seolah-olah anda tahu pertanyaan Allah untuk saya di akhirat nanti seperti apa.

Sekarang anda tidak menghargai perbedaan. Saya nyatakan bahwa hadits Kuraib itu tidak ada hubungannya dengan kaum ummiy, tapi anda ngotot menyatakan bahwa saya menempatkan diri memakai kriteria yg seharusnya digunakan orang ummiy.

Tono Saksono said...

Untuk Bung Novi.
1) Baca buku saya, ada penjelasannya
2) Sekarang cara apa lagi yg dimiliki kaum saat itu melihat dengan mata unt menandai lahirnya hilal dan bahkan masuk dan berakhirnya semua ibadah mahdoh. Itulah sebabnya semuanya sudah digantikan dg hitungan astronomi dan kemudian dijadwalkan dengan tabel. Sekarang saya balik tanya kenapa mulai berpuasanya pada setiap hari enggak juga melihat benang putih dan benang hitam?
3) Sudah saya jawab, bukan saja dg kalimat, saya buatkan program animasi hilal yg dapat diunduh gratis di blog ini. Penjelasan atas pertanyaan ini ada juga di manual singkat cara menggunakan software animasi ini.
4) dan 5) Kalau dipersiapkan dg baik, dapatkah saya memperoleh database saat pengatamatan hilal di lapangan (bukan hasil hitungan)azimuth/altitude matahari dan bulan saat tenggelam dll. Ada 12-14 data yg saya perlukan untuk mencek apakah pengamatan hilal tsb telah dilakukan dg baik? Saya akan kirimkan email unt 14 data yg diperlukan tsb.
6) Sama dg 10 jam sebelumnya itu artinya bendanya sama yg telah lahir 10 jam yg lalu. Bahwa 10 jam kemudian itu sudah membesar, itu unt memverifikasi kelahirannya 10 jam sebelumnya. Ini yg saya katakan agar tidak terjebak pada kondisi zero vanriance. Mengukur satu obyek tapi dilakukan hanya sekali juga.

Tono Saksono said...

Insya Allah saya tidak sombong karena tidak ada gunanya sombong. Manusia hanya kecil saja, sayapun tidak memiliki prestasi apapun yg perlu disombongkan. Pertanyaan Allah di akhirat? Memang itu janji Allah. Yang besar dan yang kecil akan ditanyakan, sebesar zarahpun. Bukan cuma buat anda, tapi buat saya, buat semuanya.

Anonymous said...

Pak Tono saya mendukung sistem global tetapi tidak setuju dengan wujudul hilal versi MD.

MD menerjemahkan bentuk bulan pada manzilah terakhir dengan wujudul hilal versi MD...

menurut saya bentuk bulan pada manzilah terakhir adalah bulan sabit (mirip hilal tetapi lebih kuat cahayanya sehingga disebut tandan tua) yang terbentuk sebelum ijtimak. karena bulan sabit ini terbentuk sebelum, saat (kecuali saat terjadi gerhana) dan setelah ijtimak.

* wujudul hilal versi MD tidak akan pernah berbentuk tandan pisang tetapi dalam bentuk irisan kurva seperti ilustrasi di profile saya, karena terbentuk dari perpotongan bulan dengan horison (semu)

* "...bentuk tandan tua.." terbentuk dari perpotongan sinar matahari dengan sisi gelap bulan sementara wujudul hilal versi MD tidak pernah terbentuk real seperti yang dijelaskan dalam ayat tersebut karena hanya hasil ilustrasi/asumsi saja

* kesalahan fatal MD adalah menerjemahkan "bentuk tandan tua" terjadi SETELAH IJTIMAK yaitu wujudul hilal.

QS 36:39. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua [1268].

[1268] Maksudnya: bulan-bulan itu pada awal bulan, kecil berbentuk sabit (hilal), kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, dia menjadi purnama, kemudian pada manzilah terakhir (SEBELUM IJTIMAK) kelihatan seperti tandan kering yang melengkung.

Anonymous said...

QS 36:40
“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan”

ini dibantah sendiri oleh MD dalam "Pedoman Hisab Muhammadiyah, hal 23".

bisa jadi bulan tenggelam sesudah matahari tenggelam (matahari mendahului bulan) tetapi belum terjadi konjungsi

* saya bukan pendukung rukyat langsung tetapi mendukung wujudul hilal versi global atau ummul qurra (Arab Saudi). saya berharap ada koreksi dari MD